Kenapa Kampus dengan Ranking Dunia Jadi Rebutan? Begini Dampaknya untuk Mahasiswa Indonesia

Jakarta, Ilmuwan.ID – Pemeringkatan kampus bertaraf internasional seperti QS World University Rankings dan Times Higher Education bukan sekadar ajang gengsi. Bagi mahasiswa, keberadaan kampus di daftar prestisius ini bisa jadi tiket menuju pengakuan global sekaligus peluang berkontribusi untuk daerah asalnya.

Ketika memilih perguruan tinggi, banyak calon mahasiswa kini mempertimbangkan posisi universitas di sistem pemeringkatan dunia. Dua yang paling populer adalah Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR) dan Times Higher Education (THE) Rankings. Keduanya secara rutin menilai ribuan kampus dari berbagai negara berdasarkan sejumlah indikator mutu pendidikan, riset, hingga dampak sosial.

QS WUR, misalnya, menggunakan lima kriteria utama: reputasi akademik, penelitian, ketenagakerjaan dan dampaknya, pengalaman belajar, keterlibatan global, serta aspek keberlanjutan (sustainability). Sementara itu, THE Rankings menitikberatkan penilaian pada pengajaran, kualitas riset, lingkungan penelitian, daya saing internasional, hingga kontribusi industri melalui paten dan pendapatan.

Perbedaan indikator dan bobot penilaian membuat posisi universitas bisa berbeda di tiap sistem, meski tujuan keduanya sama: menghadirkan gambaran mutu pendidikan tinggi di tingkat global.

Rektor Binus University, Nelly, menegaskan bahwa pemeringkatan internasional bukan sekadar ajang peringkat, melainkan bukti kontribusi nyata perguruan tinggi.
“Ranking global itu menunjukkan apakah pendidikan kita mampu menghasilkan anak-anak yang bisa berkarya dan bermanfaat di level internasional,” jelas Nelly kepada Kompas.com, Kamis (21/8/2025).

Menurutnya, jika kampus berhasil masuk daftar global, artinya hasil riset dosen dan mahasiswa sudah diakui dunia, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Tak hanya itu, lulusan perguruan tinggi tersebut juga telah terverifikasi pasar tenaga kerja internasional.
“Ketika mahasiswa berkarya di lingkungan kampus, sebenarnya mereka sudah menghasilkan output yang berstandar global,” tambahnya.

Namun, apakah capaian global ini juga berdampak untuk daerah asal mahasiswa? Nelly meyakini demikian.
“Kalau dia sudah punya kapasitas global, dia bisa bahkan mengangkat daerahnya ke level internasional,” ungkapnya.

Dengan kata lain, mahasiswa yang ditempa di kampus berperingkat dunia memiliki peluang besar membawa perubahan, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat dan wilayah tempat ia berasal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki 2.937 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Dari jumlah itu, setidaknya 26 universitas tercatat di QS WUR dan 43 universitas masuk THE World Rankings. Beberapa di antaranya adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Binus University, hingga Telkom University.

Sebagai pimpinan salah satu kampus yang masuk daftar internasional, Nelly menegaskan bahwa prestasi ini sejatinya merupakan buah kerja keras seluruh sivitas akademika.
“Ranking itu hasil karya mahasiswa, alumni, dan pengakuan dari para pemangku kepentingan. Itulah yang menentukan posisi sebuah universitas,” tegasnya.

Dengan semakin banyak kampus Indonesia yang menembus daftar internasional, bukan hanya reputasi perguruan tinggi yang terangkat, melainkan juga potensi mahasiswa untuk bersaing di panggung global sembari tetap membangun bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *